Rabu, 25 Maret 2009

Sepenggal Kisah Untuk Ibuku

Ibuku bagai kerani di tengah segara.
Terombang-ambing, tercabik, namun tak pernah takut mati.

Ibuku bercerita bukan lewat kata, tapi dengan mata.
Bagaimana air mata bercerita tentang segalanya.


Ibuku bukanlah maestro yang ditulisi obituari pada tutup usianya.

Ibuku hanya seorang ibu.
Ibu yang pernah menangis.
Ibu yang pernah tertawa.
Ibu yang pernah bertaruh nyawa.

Ibuku adalah ibuku.
Ibu yang akan selalu kutaruh dan kubawa.
Ibu di mana aku rela meregang nyawa.


Surabaya, 20 Maret 2009

Untuk rinduku pada ibu.

Senin, 02 Maret 2009

Biar

Ada kosong di antara kita berdua
Ada jeda antara aku dan kamu
Eh, biar kuisi kosongmu dengan kosongku
Biar kutuang penuhmu ke dalam penuhku
Biar semuanya tumpah, meleleh dan menyecap seluruh pori
Biar keringatmu dan keringatku bersetubuh
Biar lelah membuncah
Biar waktu mengusir seluruh detak

..........................................
Masih ada aku dan kamu
Masih kosong, belum terisi
Biar...

Dari Mana ?

Ah, aku bingung...
Begitu banyak yang ingin aku ungkap
Namun bibirku tak mampu berucap
Tapi aku tak bisa bila semuanya tak terungkap
Rasa ini seperti penuh
Penuh lalu tumpah terburai-burai
Meleleh, berceceran hingga kemana
Ah, aku memang leleh
Leleh yang tak mungkin beku
Cair yang akan terus mengalir
Ah, aku harus mulai dari mana ?