Ibuku bagai kerani di tengah segara. Terombang-ambing, tercabik, namun tak pernah takut mati.
Ibuku bercerita bukan lewat kata, tapi dengan mata.
Bagaimana air mata bercerita tentang segalanya.
Ibuku bukanlah maestro yang ditulisi obituari pada tutup usianya.
Ibuku hanya seorang ibu.
Ibu yang pernah menangis.
Ibu yang pernah tertawa.
Ibu yang pernah bertaruh nyawa.
Ibuku adalah ibuku.
Ibu yang akan selalu kutaruh dan kubawa.
Ibu di mana aku rela meregang nyawa.
Surabaya, 20 Maret 2009
Untuk rinduku pada ibu.



